Showing posts with label Subang. Show all posts
Showing posts with label Subang. Show all posts

Saturday, 11 March 2017

Desa muara, blanakan subang banjir www.sorak.in
Banjir di Desa Muara Blanakan.
Soeara Rakjat, Jawa Barat. Kabupaten Subang, Jawa Barat, masih disibukan oleh persoalan banjir yang masih kerap menggenangi beberapa wilayahnya. Hujan yang masih terus turun dengan intensitas yang bervariasi dari sedang hingga lebat, tak pelak membuat beberapa wilayah yang menjadi langganan banjir kembali terendam.

Seperti di Kota Subang sendiri, hujan deras yang turun pada Jumat, 10 Maret 2017 kemarin, telah membuat beberapa tempat di Kota Nanas ini kembali terendam. Selain menggenangi beberapa perumahan, jalanan di kota Subang juga sebagiannya ikut tergenang.

Hujan deras yang mengakibatkan sungai Cigadung meluap juga merendam perumahan di sekitarnya. Banjir di kawasan ini bahkan mengakibatkan dinding rumah seorang warga jebol dan menimpa anaknya, hingga terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit.

Beberapa pengguna kendaraan juga mengeluhkan makin seringnya banjir yang kerap menggenangi jalan-jalan utama. Kondisi ini tentunya menyulut rasa keprihatinan warga, karena dinilai sangat mengganggu aktivitas mereka. Jika di Ibukota Kabupaten saja banjir masih sulit teratasi, bagaimana dengan wilayah-wilayah lain di Subang?

Belakangan, banjir yang makin sering menggenangi beberapa wilayah di Subang memang menjadi topik terhangat. Selain menjadi headline media-media setempat, banjir ini juga menjadi bahan bahasan dan diskusi di kalangan aktivis hingga netizen.


Dikirim oleh Thea Assa pada 10 Maret 2017

Selain di Kota Subang, banjir juga dikabarkan kembali menggenangi beberapa tempat di wilayah Pantura Subang. Banjir ini terasa makin mempersulit aktivitas warga, terlebih jalanan di pelosok pedesaan Subang sebagian besarnya rusak parah, berlubang dan tergenang. 

Namun demikian, sebentar lagi warga akan merasa sedikit lega. Hal tersebut dikarenakan semakin dekatnya Pilgub Subang. Seperti pilbup-pilbup sebelumnya, dalam Pilgub 2018 nanti diyakini warga Subang akan kembali menikmati janji-janji terkait kesejahteraan, kerusakan jalan hingga banjir. BDLV/TM


Subang banjir 😅😅
Dikirim oleh Ucill pada 2 Maret 2017

Thursday, 2 March 2017

Kepala Desa Muara bersama Guru dan Siswa SD Sukajaya.
Soeara Rakjat, Muara. SDN Sukajaya Desa Muara, berhasil meraih juara pertama dalam Lomba Pasukan Baris-Berbaris (LPBB) se-Kecamatan Blanakan yang digelar pada hari Kamis, 2 Maret 2017, bertempat di Aula Kantor Desa Cilamaya Girang, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Dalam lomba yang diikuti oleh seluruh perwakilan Sekolah Dasar yang ada di Kecamatan Blanakan tersebut, anak didik SD Sukajaya mendapat nilai tertinggi dari perwakilan Dinas Pendidikan Subang dan pihak kecamatan selaku panitia. Selain baris-berbaris, acara ini juga melombakan beberapa kegiatan lainnya, seperti kesenian, cerdas-cermat, melukis dan pembacaan puisi.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Muara Ita Sudita, turut hadir untuk memberi support dan motivasi kepada siswa-siswa SD dari Desa Muara. Menurutnya, kegiatan seperti ini bisa menumbuh-kembangkan kreatifitas dan kemampuan siswa khususnya yang sedang menempuh pendidikan dasar.

Meski demikian, Kades Muara yang akrab disapa Lurah Ita ini mengatakan, bukan status juara yang menjadi prioritas. Namun kemampuan dan kreatifitas para siswa yang harus ditingkatkan dan mendapat dukungan dari semua pihak.
Lurah Ita bersama para Siswa SDN I Desa Muara.
"Kami sangat bangga mereka (siswa SD Sukajaya) bisa meraih juara pertama. Tanpa gelar juara juga kami akan selalu mendukung para guru dan seluruh siswa SD yang ada di desa Muara" tegas Lurah Ita, saat ditemui di Kantor Desa Muara.

Lebih lanjut, Lurah Ita juga menyebutkan bahwa prestasi para siswa ini harus bisa ditingkatkan dan dipertahankan. Untuk itulah dirinya berharap dukungan dari para guru, orang tua dan juga wali murid. Terlebih, Desa Muara akan menjadi tuan rumah dalam kegiatan LPBB pada 2019 mendatang.

"Kami mendapat informasi kalau Desa Muara akan mendapat giliran menjadi tuan rumah untuk kegiatan serupa pada tahun 2019," pungkas Lurah Ita. BDLV/TM

Tuesday, 28 February 2017


Bupati Subang/sebagian foto milik Pemkab Subang
Soeara Rakjat, Historia. Kabupaten Subang, adalah sebuah Daerah Tingkat II di Jawa Barat, yang letak wilayahnya berada di sebelah utara Bandung. Subang juga berbatasan dengan Purwakarta dan Karawang di bagian Barat, Majalengka dan Indramayu di Timur, serta Sumedang di bagian tenggara. Sementara mayoritas wilayah utaranya berbatasan dengan laut Jawa. 

Kabupaten Subang sendiri tak lepas dari eksistensi Karawang sebagai salah satu basis gerilyawan di Jawa Barat. Atas keputusan Wali Negara Pasundan tanggal 29 Januari Nomor 12 Tahun 1949, Karawang kemudian dibagi menjadi dua, yaitu Karawang Barat dengan Ibukota di Karawang dan Karawang Timur yang kemudian disebut Kabupaten Purwakarta dengan Ibukotanya di Subang. 

Wilayah Kabupaten Purwakarta saat itu meliputi wilayah Kabupaten Subang dan Purwakarta saat ini. Pada tahun 1968, Kabupaten Purwakarta dibagi menjadi dua melalui UU. No. 4 Tahun 1968 yang kemudian membagi Kabupaten Purwakarta menjadi Kabupaten Subang dengan Ibukotanya di Subang, dan Kabupaten Purwakarta yang beribukota di Purwakarta. 

Sejak itu, Kabupaten Subang dan Purwakarta menjadi dua kabupaten yang berbeda. Meski demikian, keduanya masih memiliki rasa ikatan dan kebersamaan karena berdasar pada mayoritas etnis, budaya maupun adat istiadat yang relatif sama. 

Kota Subang sendiri selalu memperingati hari jadinya pada 5 April, sejak tahun 1948. Berikut ini adalah nama-nama yang pernah menjabat sebagai Bupati di Kabupaten Subang:
12345

Wednesday, 22 February 2017

SDS Taman Siswa Desa Tanjungtiga.
Soeara Rakjat, Tanjungtiga. Taman Siswa, adalah sebuah perguruan atau sekolah yang pertamakali didirikan oleh Raden Mas Soewardi Soejaningrat atau Ki Hadjar Dewantara. Taman Siswa merupakan implementasi dari gagasan bersama Ki Hadjar dan rekan-rekannya sesama pejuang pergerakan kemerdekaan saat tergabung dalam paguyuban Seloso Kliwon.

Paguyuban Seloso Kliwon ini adalah forum yang digelar oleh Ki Hadjar selepas pulang menimba ilmu di negeri Belanda. Bersama teman-temannya, Ki Hadjar sepakat untuk memberi pendidikan kepada kaum muda. Bersama Ki Ageng Suryomentaram, Soerjokoesoemo, Soejopoetro, Pronowidigdo dan kawan yang lainnya, Ki Hadjar lantas mendirikan National Onderwijs Instituut Taman Siswa, yang kemudian lebih dikenal sebagai Perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922, di Yogyakarta.

Secara harfiah, Taman Siswa sendiri memiliki pengertian taman atau tempat bermain bagi para siswa dan pelajar. Perguruan Taman Siswa sendiri berpusat di Balai Ibu Pawiyatan atau Balai Luhur di Jalan Taman Siswa Yogyakarta. Hingga saat ini, perguruan ini memiliki ratusan cabang sekolah di berbagai kota di Indonesia.

Meski demikian, perjalanan sekolah ini tidaklah mulus. Taman Siswa pernah dibubarkan oleh Belanda karena dianggap membahayakan hegemoni penjajah di Indonesia. Terlebih, Ki Hadjar sendiri selalu menyerang Belanda dengan tulisan-tulisannya yang sangat terkenal.

Di Desa Tanjungtiga, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat, ada sekolah dasar yang juga bernaung di bawah perguruan Taman Siswa. SDS Taman Siswa ini berlokasi di Dusun Sukawera persisnya di alun-alun atau berada di seberang Kantor Desa Tanjungtiga. Sekolah ini adalah salah satu SD tertua di wilayah Kecamatan Blanakan.

SDS Taman Siswa Desa Tanjungtiga sendiri diperkirakan sudah ada sejak 1949 yang awalnya belokasi di Dusun Sukatani (sekarang Lapangan Bola) Tanjungtiga. Saat itu SD ini dipimpin oleh Pak Rospan dan Pak Tarjo dengan dibantu Pak Teha Atmadja dan Pak Soewarya (Warya) yang kesemuanya adalah warga asli Tanjungtiga. Selain itu, SD ini juga pernah mendatangkan beberapa guru asal Yogyakarta diantaranya Ki Soemardi dan Ki Noerherwan.

Tak lama setelah itu, SD Taman Siswa kemudian pindah ke Pasar Reboan yang lokasinya di sekitar jembatan gantung Desa Muara persis di pinggir kali Ciasem. Di sekitar Reboan, SD Taman Siswa menempati ruang bekas pasar yang kosong karena ditinggal pemiliknya. Saat itu, Pasar Reboan sendiri sudah mulai sepi dan tak lama kemudian tutup.

"Saat saya sekolah di Taman Siswa Reboan tahun 1950-an, suasana masih sangat sepi. Masih banyak pohon besar dan semak berduri. Kelasnya juga bekas los pasar dan terbuat dari pager (bilik bambu)," kenang Ki Dastam, seorang warga Sukawera, Tanjungtiga kelahiran tahun 1937.

Saat itu, warga Tanjungtiga dan Muara memang bermukim di pinggir sungai Ciasem dan hanya dibatasi tanggul yang berada persis di tepi Sungai. Tanggul ini sering jebol dan membuat banjir besar. Bahkan saat tanggul Ki Nari jebol sekitar tahun 1955, desa Tanjungtiga mengalami banjir besar yang membuat lahan pesawahan Tanjungtiga tenggelam dan bahkan bisa untuk berlayar karena berubah seperti lautan.

Pada awal tahun 1960, tanggul besar kemudian dibuat dan warga pun mulai berpindah dari pinggir sungai ke lokasi yang sekarang. Dengan tanggul (deck) yang ada saat ini, potensi banjir besar pun bisa dihindari karena lokasi tanggul yang lebih jauh dari sungai dan mampu menampung debit air lebih banyak.

Setelah Balai Desa Tanjungtiga berdiri di lokasi saat ini pada sekitar 1958, tak lama kemudian SD Taman Siswa pun ikut pindah. Bangunan SD Taman Siswa yang ada saat ini diperkirakan mulai dibangun pada awal tahun 1960. Tak lama setelah pindah, Pak Rosman kemudian meninggal dunia dan diganti oleh Pak Abdul Muin (Alm) sebagai Kepala Sekolah. 

SD Taman Siswa sendiri menerapkan sistem pendidikan seperti yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara. Kala itu, para siswa yang pernah bersekolah di Taman Siswa Tanjungtiga akan merasakan betul suasana keakraban dan kedekatan para pengajar dengan anak didiknya. Selain pelajaran membaca, menulis dan berhitung, Taman Siswa juga berusaha menanamkan sikap luhur budaya Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara dan Murid Taman Siswa sekitar 1920-an.
Selain diwajibkan untuk menguasai ilmu pendidikan, para pelajar di SD Taman Siswa Tanjungtiga juga dituntut untuk mampu mengedepankan sikap tenggang rasa, toleransi dan saling menghormati baik sesama siswa, orang tua dan guru. SD Taman Siswa berusaha menanamkan sikap luhur dan budi pekerti sebagai bagian paling penting dalam mata pelajarannya.

Sebagai salah satu Sekolah Dasar tertua, SD Taman Siswa Tanjungtiga telah berjasa besar memberi pendidikan dasar bagi masyarakat Desa Tanjungtiga dan Desa Muara. BDLV/TM

Tuesday, 21 February 2017

Tegar Septian, penyanyi asal Subang/foto tegar_official
Soeara Rakjat, Selebrita. Penyanyi beken Tegar Septian, kian hari kian terasa matang dan makin profesional. Pemuda kelahiran Subang 18 September 2001 ini berhasil mencuri perhatian para pencinta musik di tanah air, dan bahkan remaja yang lebih akrab disapa Tegar ini juga sangat populer hingga ke negeri jiran, Malaysia.

Berkat kemampuan olah vokalnya, Tegar "Si Pengamen Subang" ini berhasil menjadi salah satu penyanyi yang paling diminati di blantika musik populer Indonesia. Dalam usia muda, Tegar yang sangat populer sejak 2013 telah mampu menciptakan banyak lagu yang beberapa diantaranya menjadi Single Hits yang sangat terkenal.

Di jejaring sosial maupaun di situs berbagi video youtube, nama Tegar pun sudah tak asing lagi. Salah satu lagunya berjudul Aku Yang Dulu Bukanlah Yang Sekarang adalah yang paling fenomenal. Sejak itu, Tegar menjadi salah satu penyanyi muda dengan raihan penghasilan yang fantastis.

Setelah merilis beberapa lagu yang cukup hits pada tahun 2013 seperti Aku Yang Dulu Bukan Yang Sekarang, Rindu Ibu, Sekolah, dan Sahabat Tegar, pada tahun 2014 Tegar juga berhasil melambungkan beberapa lagu diantaranya Kemana Kasih Ibu dan Bengawan Solo. Belakangan, Tegar juga dikabarkan akan segera merilis lagu baru.

Kabar itu juga dikonfirmasi langsung oleh Tegar melalui akun jejaring sosial. Melalui sebuah video yang diunggah ke akun Instagram, Tegar menyebutkan bahwa lagu berjudul Kau Yang Terbaik ini akan dirilis pada April 2017 mendatang.
Tegar Septian adalah penyanyi remaja yang sudah menunjukan bakat luar biasa dalam dunia tarik suara sejak usia 5 tahun. Kondisi ekonomi keluarganya yang tergolong biasa-biasa saja telah membuat Tegar menjadi mandiri dan semakin 'Tegar' sejak usia 7 tahun. 

Dengan pengikut yang mencapai jumlah hingga puluhan ribu, saat ini Tegar telah menjelma menjadi selebgram yang selalu mendapat perhatian, apresiasi hingga motivasi dari para penggemarnya terutama warga Subang, Jawa Barat. BDLV/TM

Monday, 20 February 2017

Pohon Rengas Tua Desa Muara, Blanakan yang angker dan misterius.
Soeara Rakjat, Kisah Misteri. Pohon Rengas, terutama Rengas Tembaga (Glutha Renghas L) yang menjulang lebih tinggi dari jenis rengas lainnya, adalah sejenis pohon anggota marga Gluta dari suku Anacardiaceae. Pohon ini tumbuh subur di negara-negara tropis termasuk di Indonesia.

Selain sebagai pohon yang cukup ikonik, pohon rengas tembaga juga memiliki sisi mistis yang kental. Saat mayoritas penduduk Indonesia masih menganut Animisme atau menyembah benda tak bergerak seperti pohon, gunung atau batu, pohon-pohon besar termasuk rengas diyakini sebagai tempat bersemayamnya penguasa alam termasuk arwah para leluhur dan juga bangsa lelembut atau siluman.

Di Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat, terdapat sebuah pohon rengas tua yang di masa lalu dianggap keramat dan sangat angker. Pohon rengas ini berlokasi di Dusun Sukamanah, Desa Muara. Selain diyakini sebagai tempat keramat, pohon ini juga menjadi ikon (penanda) desa.

Konon di tahun 1930-an, setiap warga yang melintas di jalan setapak yang menghubungkan Desa Muara dan Ciasem atau menuju jalan nasional yang dulu menjadi bagian dari Grote Postweg (dibangun semasa Herman Willem Daendeles 1808-1809) akan menyadari bahwa mereka mulai memasuki Desa Muara jika melihat pohon rengas. Saat itu, suasana di kiri-kanan jalan masih sangat sepi dan banyak ditumbuhi pepohonan besar juga masih banyak binatang liar seperti macan tutul dan babi hutan.

Di tahun 1960-an, pohon rengas ini diketahui sudah sangat dikeramatkan oleh sebagian warga desa. Hal itu dikarenakan masih adanya sebagian warga yang mempraktekan faham Animisme atau mungkin Sunda Wiwitan meskipun telah memeluk agama Islam. Saat itu, batang  pohon rengas dilingkari kain kafan putih dan sering diberi sesaji.

Karena dikeramatkan, suasana dan aura mistis nan horor pun seolah menyelimuti pohon ini. Hingga pertengahan 1980-an saat masih belum ada listrik dan suasana masih sangat sepi mencekam, cukup banyak penampakan atau pendengaran aneh yang dialami warga saat melintas di sekitar pohon ini pada malam hari.

Selain penampakan perempuan yang suka menangis di bawah pohon, para orang tua juga sering bercerita akan adanya ular besar yang melingkar di pohon ini. Karena keangkerannya, di masa lalu pohon rengas sering menjadi tempat menyepi atau bertapa bagi para ahli Supranatural.

Menurut para ahli kebatinan, cukup banyak pusaka ampuh yang menunggui pohon rengas, yang diantaranya adalah Selendang Mayang yang sering berubah wujud menjadi wanita yang menangis di malam hari, dan sebilah keris sakti yang sering berganti rupa menjadi seekor ular besar.

Hal itu sering diungkap oleh Togleg, seorang warga yang kabarnya memiliki mata batin atau indera ke enam dan mampu menerawang ke alam gaib. Togleg sendiri cukup dikenal oleh masyarakat desa Muara di era tahun 1980-an, dan disebut-sebut memiliki keistimewaan karena konon ia pernah meninggal namun hidup kembali karena pada saat akan dikubur Togleg dilangkahi Kebo (kerbau) Bule. 

Lebih dari itu, ada beberapa tokoh spiritual Desa Muara yang kabarnya pernah bertapa atau melakukan ritual olah kebatinan di pohon rengas tua desa Muara.  Kisah misteri pohon rengas tua Desa Muara, sepertinya akan menjadi cerita turun-temurun bagi warganya.

Meski sebagian masyarakat menganggap takhayul, namun setidaknya kisah pohon rengas adalah sebuah kearifan lokal dan salah satu peninggalan berharga dari leluhur masyarakat Desa Muara. Tentunya bukan tanpa maksud dan tujuan jika para leluhur kita menanam pohon rengas di tikungan?

Sementara para ahli Sufi dalam beberapa risalah yang tertulis dalam kitab Suluk menyebutkan bahwa beragam mitos yang ada di tempat-tempat angker termasuk pohon rengas ini adalah karena keyakinan masyarakat itu sendiri. Jika masyarakat meyakini adanya sosok penunggu atau siluman di pohon itu, maka golongan Jin akan menjelma sesuai dengan apa yang difikirkan oleh manusia.

Karena hal itu pula manusia harus tetap yakin kepada Tuhan sebagai penguasa alam. Manusia harus berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan dan juga rasa was-was yang ditimbulkan oleh golongan Jin dan manusia, seperti yang diterangkan Al Qur'an dalam Surat Annas.

Namun demikian, meski keyakinan masyarakat desa Muara akan faham Animisme berangsur-angsur mulai berkurang tetapi 'keangkeran' pohon rengas seolah tak lekang oleh zaman. Pohon yang diyakini berusia ratusan tahun ini tetap menyita perhatian warga karena seringnya kecelakaan kendaraan yang terjadi dan diantaranya hingga meninggal dunia.

Saat jalan masih belum bagus pun kecelakaan lalu lintas memang sering terjadi, apalagi saat jalanan sudah mulus seperti saat ini? Beberapa bulan yang lalu, warga menemukan dua perempuan targeletak di sekitar pohon rengas. Meski tak ada yang mengetahui persis kronologisnya, namun warga meyakini itu adalah karena kecelakaan. Yang terakhir, seorang warga meninggal karena mengalami kecelakaan di sekitar pohon ini.

Karena jalan yang menikung dengan sudut yang mencapai hingga 75°, tak jarang pengendara dari arah selatan akan bersinggungan atau bahkan tabrakan dengan pengendara dari arah utara. Tak jarang pula terjadi kecelakaan tunggal karena pengendara tak mampu menguasai kendaraannya terutama roda dua saat melintas di sekitar pohon rengas tua.

Menurut pengakuan beberapa pengendara yang pernah hampir mengalami kecelakaan, tanpa sadar mereka melaju di tengah jalan hingga keluar dari jalurnya. Saat mereka menyadari berada di tengah dan menghalangi jalur kendaraan lain dari arah berlawanan, mereka pun mengaku sangat sulit mengendalikan motornya.

Hal itu pula yang membuat kisah mistis nan horor di sekitar pohon rengas masih tetap diyakini oleh sebagian masyarakat. Namun terlepas dari semua mitos yang ada, kondisi jalan yang menikung dan kecepatan kendaraan yang melebihi batas aman adalah penyebab utamanya.

Jalan desa yang rata dan datar tentunya sangat berbeda dengan sirkuit atau arena balap yang kontur (permukaan) jalan atau kemiringannya disesuaikan dengan tikungan. Sirkuit balap atau jalan nasional terutama di pegunungan akan sedikit miring agar roda tidak keluar jalur saat melintas di trek yang menikung.

Sementara jalan desa yang tetap datar saat menikung adalah sesuatu yang mengundang bahaya jika kita berkendara dengan kecepatan di atas batas aman. Saat melaju di tikungan dengan kecepatan tinggi, pengendara cenderung sedikit ke tengah agar tak keluar jalur (tekor). Kondisi ini tentu sangat berbahaya jika di saat yang sama ada kendaraan lain dari arah berlawanan.

Saat dua kendaraan berpapasan di tikungan dan salah satunya dalam kecepatan tinggi, maka dipastikan akan ada kepanikan yang sangat berpotensi pada kecelakaan. Video pendek ini bisa menjelaskan bagaimana kecelakaan lalu-lintas masih sering terjadi di pohon rengas tua ini.
Menyikapi masih maraknya kecelakaan yang terjadi, Pemerintah Desa lantas memasang tanda peringatan bagi para pengendara baik dari arah selatan maupun arah utara, yang akan memasuki atau melintas di sekitar pohon Rengas Tua Desa Muara. Bukan pohon tua angker, tetapi jalan menikung yang harus diwaspadai oleh para pengendara. BDLV/TM

Wednesday, 15 February 2017

Aksi nekat seorang pria berjoget di atas motor di Jalan Pantura Subang/foto youtube
Soeara Rakjat, Jawa Barat. Seorang pengendara motor kembali menggemparkan warga dan para pengendara di sekitar jalan pantura Subang, Jawa Barat. Karena aksinya nekatnya yang berjoget di atas motor sambil lepas tangan, pria ini berhasil mencuri perhatian warga dan para pengendara.

Aksi berbahaya pria tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah ke jejaring sosial Facebook. Dalam video tersebut, pria ini lepas tangan untuk berjoget sedangkan motor yang kendarainya melaju cukup kencang. Hebatnya, pria ini juga mampu menghindari lubang dan mengendalikan motornya tanpa menyentuh setang.

Tentu saja aksi pria yang terbilang nekat ini mengundang beragam tanggapan dari para netizen. Sebagian menyebut bahwa pria tersebut terlalu berani karena jalan Pantura Subang adalah salah satu jalur yang rawan kecelakaan. Di jalur ini, cukup banyak kendaraan besar bermuatan berat hingga bus AKAP yang kerap ugal-ugalan.

"Keren atau nekat ya yang begini? Senam di atas motor. Semoga selamat ya kang broo. Jangan ditiru yaa!," ujar Hartono, netizen yang pertama kali menunggah video ini.
       Freestyle:
Pemotor nyentrik yang melintas di sekitar kawasan Patokbesi, Subang ini juga terlihat enjoy dan bahkan memberi isyarat saat menyadari kendaraan di belakangnya hendak mendahului.

Sebelum jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) beroperasi, ruas jalan ini merupakan salah satu jalur tersibuk dan padat di sepanjang jalur Pantai Utara Jawa. Selain itu, jalur Pantura Subang juga tercatat sebagai salah satu yang paling rawan dan kerap merenggut korban.
Namun demikian, jalur ini juga kerap dijadikan ajang balap liar, konvoi geng motor hingga aksi berbahaya termasuk aksi nekat seorang pria yang terekan dalam video ini. BDLVTM

Tuesday, 14 February 2017

Warga Subang pelopori Gerakan Aksi Tanam Pohon Pisang di tengah jalan/foto Facebook Suara Subang
Soeara Rakjat, Jawa Barat. Subang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat dengan sarana infrastruktur yang cukup memprihatinkan. Meski terkenal sebagai kota gotong-royong, namun hingga kini mayoritas jalan yang ada di pedesaaan maupun lintas kecamatan dalam kondisi rusak, berlubang dan tergenang.

Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama dan bukan hanya terjadi saat ini saja. Masyarakat pun kerap mengeluhkan kondisi yang ada karena jalanan yang rusak dinilai sangat mengganggu aktivitas dan juga akses ekonomi mereka.

Karena kerusakan jalan ini pula cukup banyak desa-desa di wilayah Subang yang sebenarnya sangat potensial namun menjadi seperti desa tertinggal. Meski mayoritas pedesaan di Subang didominasi oleh lahan pertanian khususnya sawah dengan kualitas terbaik, namun jalan yang ada justeru banyak yang rusak.

Selain menyulitkan warga, kerusakan jalan juga menjadi kendala dan salah satu penyebab anjloknya harga gabah saat panen tiba. Para petani kerap berkeluh kesah ketika hasil panennya dihargai cukup murah karena alasan bakul atau pengepul gabah yang mengaku kesulitan menjangkau desa mereka.

Gerakan Tanam Pisang di Jalanan Subang
Belakangan, maraknya kerusakan jalan ini disikapi warga dengan penanaman kembali pohon pisang di tengah jalan. Penanaman pohon pisang ini sebagai wujud kepedulian warga terhadap jalan-jalan yang berlubang dan kerap menyebabkan kecelakaan bagi para pengguna kendaraan.

Saat turun hujan, jalan yang berlubang ini akan tergenang dan sering menyebabkan para pengendara khususnya roda dua yang terperosok dan bahkan hingga jatuh. Seorang warga lantas mengunggah beberapa foto terkait penanaman pohon pisang ini melalui akun jejaring sosial Facebook.

"Mari kita ramaikan kembali perselfian medsos (media sosial) Subang. Fenomena Penanaman Pohon Pisang di tengah Jalan Raya Subang, ini letaknya 200 meter sebelum kantor Desa Binong," ujar pemilik akun Tubagus Heri Sastrawijaya saat membagikan postingannya di forum publik Suara Subang.
Beberapa pekan ke depan, aksi penanaman pohon pisang di jalan ini sepertinya akan kembali marak dilakukan oleh warga Subang, karena mayoritas jalan di lingkungannya banyak yang rusak, berlubang dan tergenang. BDLV/TM

Menu masakan khas Sunda di rumah makan Ibu Iyet Pusakanaga Subang.
Soeara Rakjat, Kuliner. Jika anda berkunjung ke sekitar wilayah Kecamatan Pusakanegara dan kebetulan dalam kondisi perut yang lapar, kita bisa mencoba beberapa rumah makan yang banyak terdapat di sekitar Kantor Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Berlokasi hanya beberapa ratus meter dari seberang Kantor Kecamatan persisnya di jalan menuju Kecamatan Compreng, ada sebuah rumah makan yang terbilang sederhana dan murah namun memiliki cita-rasa yang cukup nikmat.

Rumah Makan Hajjah Iyet, itulah salah satu tempat makan yang paling ramai di sekitar Kecamatan Pusakanagara. Rumah makan ini hanya beberapa meter ke arah selatan dari perempatan Pusakanagara menuju arah Compreng.

Menu khas Sunda di rumah makan Ibu Iyet, Pusakanagara Subang
Dengan berbagai menu khas Sunda yang cukup menggoda selera, rumah makan ini selalu ramai oleh pengunjung dari pagi, siang hingga malam. Selain harga yang terbilang murah, menu yang ditawarkan pun sangat lengkap dari mulai olahan lauk yang digoreng, dibakar hingga dipepes.

Selain lauk pauk seperti daging, ayam atau ikan, menu sayur-sayuran yang ditumis juga sangat beragam dan tentunya bisa memenuhi kebutuhan tubuh kita akan vitamin yang terkandung dalam sayuran. Selain tumisan, sayur asem adalah menu sangat direkomendasikan.

Jika anda berminat mencoba, saat berada di perempatan pasar Pusakanagara anda hanya perlu berbelok ke kanan ke arah Compreng. Jika dari arah timur, lokasi rumah makan ini hanya beberapa puluh meter setelah kita berbelok ke arah kiri. Selamat mencoba. BDLV/TM

Friday, 10 February 2017

Nelayan desa muara dan tanjungtiga jarang melaut karena angin kencang http://www.sorak.in
Perahu milik nelayan warga Desa Muara dan Tanjungtiga di Dermaga TPI Mina Bahari.
Soeara Rakjat, Tanjungtiga. Sejak beberapa pekan terakhir, masyarakat Desa Muara dan Tanjungtiga yang berprofesi sebagai nelayan sedang mengalami sedikit kesulitan karena tidak bisa leluasa pergi melaut untuk menangkap ikan, yang diakibatkan oleh terjangan angin kencang yang sering terjadi belakangan ini.

Menurut para nelayan, kondisi ini memang faktor alam yang biasa terjadi di setiap tahun. Namun menurut mereka, beberapa tahun terakhir cuaca memang sangat sulit diprediksi. Saat mereka mengira cuaca bagus lantas melaut, tak jarang ada angin kencang disertai hujan lebat yang terjadi di lepas pantai yang biasa menjadi lokasi untuk menangkap ikan.

Sementara untuk saat ini, kondisi cuaca sendiri memang sedang tidak bagus karena angin barat yang sangat kencang dan kadang disertai hujan lebat. Tak sedikit dari warga nelayan yang mencoba untuk melaut kemudian kembali pulang karena tak mau ambil resiko akibat terjangan angin kencang.

Selain itu, mayoritas kapal penangkap ikan yang dimiliki oleh masyarakat nelayan di kedua desa ini memang berukuran kecil dan sedang. Tentunya akan sangat beresiko bila mereka memaksa untuk melaut di saat angin kencang.

"Sudah sering mencoba untuk pergi melaut dan berharap cuaca bagus. Tapi kami sering kembali karena angin di laut ternyata sangat kencang," ujar Khasan, seorang nelayan warga Dusun Sukaasih Desa Muara.

Meski demikian, Khasan mengatakan sesekali dirinya dan nelayan lain masih bisa melaut saat cuaca di lepas pantai Teluk Ciasem sedang bagus dan cukup bersahabat. Namun secara keseluruhan, cuaca saat ini memang sangat tidak menguntungkan.

Tentunya kondisi ini sedikit mempersulit kehidupan sebagian warga yang mengandalkan mata pencahariannya dari hasil menangkap ikan. Tak hanya para nelayan, kondisi ini juga berpengaruh terhadap perekonomian desa yang sebagiannya mengandalkan hasil perikanan laut.

Selain sebagai daerah penghasil pertanian dan juga budidaya tambak, sebagian masyarakat Desa Muara dan Tanjungtiga sendiri memang bermata pencaharian sebagai nelayan. Lebih dari itu, menangkap ikan atau menjadi nelayan adalah tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun dari para leluhur mereka. 
Saat cuaca cukup bagus dan hasil ikan melimpah, mayoritas nelayan di kedua desa ini akan menjual hasil tangkapannya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Mina Bahari, Desa Muara. Dua tahun sekali, warga Desa Muara dan Tanjungtiga akan menggelar prosesi syukuran nelayan atau Ruat Laut. BDLV/TM

Thursday, 9 February 2017

Genangan air di pemukiman warga Desa Muara yang disebabkan turunnya hujan.
Soeara Rakjat, Sukaasih. Sepekan terakhir, wilayah di pesisir utara Kabupaten Subang masih terus diguyur hujan dengan intensitas ringan, sedang dan kadang besar. Selain masih terus turunnya hujan, cuaca di daerah Pantura Jawa Barat khususnya wilayah Subang juga selalu mendung atau berawan dari pagi, siang hingga di sore hari.

Seperti yang terjadi di Desa Muara, Kecamatan Blanakan. Di desa ini, hampir setiap menjelang malam dan pagi hari hujan akan selalu turun dan menggenangi beberapa ruas jalan maupun pemukiman warga. Tak sedikit yang merasa khawatir jika kondisi ini terus berlangsung maka akan memicu banjir besar yang memang sering melanda wilayah ini.

Desa Muara sendiri memang menjadi salah satu desa langganan banjir yang hampir selalu terjadi setiap turun hujan. Di beberapa lokasi, selalu ada genangan air meski hujan turun tidak terlalu lebat dan berlangsung tak terlalu lama. Cukup banyak pula rumah-rumah warga yang saat ini selalu kemasukan sesaat di waktu turun hujan.

Menyikapi kondisi cuaca yang terus mendung dan berpotensi hujan, tentunya warga desa Muara harus tetap waspada akan kemungkinan banjir yang kembali melanda. Sebagai daerah yang berada di bibir pantai laut Jawa, tentunya banyak faktor lain yang bisa memicu terjadinya banjir selain dari hujan itu sendiri.

Saat air laut pasang bersamaan dengan turunnya hujan yang cukup lebat, banjir bisa saja terjadi. Terlebih, tinggi permukaan air laut sendiri memang mengalami peningkatan sejak beberapa puluh tahun terakhir. Tentunya kondisi ini harus diwaspadai oleh seluruh warga karena segala kemungkinan bisa saja terjadi.

Banjir besar di Desa Muara tahun 2013-2014
Desa Muara sendiri pernah mengalami banjir besar yang terjadi pada Desember 2013 hingga awal 2014 silam. Banjir yang terjadi saat itu tercatat sebagai salah satu banjir terbesar yang pernah melanda wilayah desa Muara dalam 20 tahun terakhir.

Hujan yang saat ini masih terus turun, tentunya tidak menutup kemungkinan akan terjadinya banjir besar yang kembali melanda wilayah ini. Tak hanya Muara, Desa Tanjungtiga yang bertetangga juga mengalami kondisi yang sama. Warga di kedua desa pun diminta untuk waspada.

Selain hujan, mayoritas nelayan di desa Muara juga sudah tidak melaut karena terjangan angin besar sejak hampir sebulan terakhir. Terjangan angin barat yang sangat kencang ini mulai terasa di lepas pantai Teluk Ciasem. Menurut beberapa nelayan, sudah hampir tiga pekan mereka tak melaut dan kehilangan mata pencaharian.

"Kalau terus turun hujan dan angin laut juga tambeng (kencang) nelayan tidak bisa mencari ikan. Kita terpaksa menggunakan uang simpanan atau berhutang untuk memenuhi kebutuhan. Padahal hutang di warung tetangga juga sudah banyak," ujar Dedi, warga Muara yang berprofesi sebagai nelayan, Jum'at (10/2). BDLV/TM

Powered by Blogger.

Popular Posts

Blog Archive