Showing posts with label Historia. Show all posts
Showing posts with label Historia. Show all posts

Saturday, 11 March 2017

Dzikir dan Shalawat di Masjid At-Tin TMII/foto Islampos.
Soeara Rakjat, Megapolitan. Hari ini Sabtu, 11 Maret 2017, Masjid At-Tin di TMII akan menggelar kegiatan Akbar bertajuk Dzikir dan Shalawat Untuk Negeri. Kegiatan akbar ini akan dihadiri oleh para Ulama dan sejumlah tokoh nasional, termasuk pasangan cagub-cawagub dalam Pilkada DKI 2017.

Dari kalangan ulama, beberapa nama yang sudah mengkonfirmasi akan hadir adalah Habib Rizieq Shihab, Ustadz Arifin Ilham, Aa Gym dan Habib Syech Assegaf. Akan turut hadir pula Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dan juga keluarga besar mendiang Jenderal Besar HM. Soeharto.

Selain itu, pasangan Cagub/Cawagub DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno juga mengkonfirmasi akan hadir. Begitupula dengan Cawagub DKI Djarot Syaiful Hidayat. Sementata Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masih belum memberi konfirmasi.

Rangkaian kegiatan dalam acara ini sendiri sudah mulai digelar sejak pukul 12.00 WIB. Namun demikian, acara inti atau puncak baru akan dimulai setelah Maghrib.

Selepas menunaikan shalat Maghrib berjamaah, acara inti akan dimulai dengan mendengar tausiyah dari Habib Rizieq Shihab, kemudian dilanjut dzikir bersama dengan Ustadz Arifin Ilham dan KH Abdullah Gym Nastiar atau Aa Gym.

Hingga saat ini, masyarakat dari seputaran Ibukota masih terus berdatangan untuk turut serta dalam kegiatan tersebut. Kegiatan Dzikir dan Shalawat Untuk Negeri ini didedikasikan untuk memperingati 51 Tahun Supersemar.


Bersatu untuk kedamaian @masjid At-Tin TMII
Dikirim oleh Anna Rinawati pada 11 Maret 2017


Mengingat acara ini dihadiri oleh para ulama dan tokoh nasional, tentunya animo dan antusiasme masyarakat pun terasa sangat besar untuk menghadiri Dzikir dan Shalawat Untuk Negeri di Masjid At-Tin, TMII.

Friday, 10 March 2017

Jawara Betawi dan Laskar FPI di Masjid At-Tin, TMII.
Soeara Rakjat, Megapolitan. Hari ini Sabtu, 11 Maret 2017, Masjid At-Tin di TMII akan menggelar kegiatan Akbar bertajuk Dzikir dan Shalawat Untuk Negeri. Kegiatan akbar ini akan dihadiri oleh para Ulama dan sejumlah tokoh nasional, termasuk pasangan cagub-cawagub dalam Pilkada DKI 2017.

Dari kalangan ulama, beberapa nama yang sudah mengkonfirmasi akan hadir adalah Habib Rizieq Shihab, Ustadz Arifin Ilham, Aa Gym dan Habib Syech Assegaf. Akan turut hadir pula Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dan juga keluarga besar mendiang Jenderal Besar HM. Soeharto.

Selain itu, pasangan Cagub/Cawagub DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno juga mengkonfirmasi akan hadir. Begitupula dengan Cawagub DKI Djarot Syaiful Hidayat. Sementata Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masih belum memberi konfirmasi.

Rangkaian kegiatan dalam acara ini sendiri sudah mulai digelar sejak pukul 12.00 WIB. Namun demikian, acara inti atau puncak baru akan dimulai setelah Maghrib.

Selepas menunaikan shalat Maghrib berjamaah, acara inti akan dimulai dengan mendengar tausiyah dari Habib Rizieq Shihab, kemudian dilanjut dzikir bersama dengan Ustadz Arifin Ilham dan KH Abdullah Gym Nastiar atau Aa Gym.

Hingga saat ini, masyarakat dari seputaran Ibukota masih terus berdatangan untuk turut serta dalam kegiatan tersebut. Kegiatan Dzikir dan Shalawat Untuk Negeri ini didedikasikan untuk memperingati 51 Tahun Supersemar.

Mengingat acara ini dihadiri oleh para ulama dan tokoh nasional, tentunya animo dan antusiasme masyarakat pun terasa sangat besar untuk menghadiri Dzikir dan Shalawat di Masjid At-Tin ini.

Masjid At-Tin dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), memang sangat lekat dengan keluarga besar Mantan Presiden Soeharto. TMII sebagai gambaran atau miniaturnya Indonesia ini pembangunannya digagas oleh mendiang Ibu Tien Soeharto.

Selain dari pihak Kepolisian, kegiatan ini juga akan diamankan oleh para Jawara Betawi dari 5 wilayah Ibukota dan juga Laskar FPI. Sejak kemarin, sebagian dari para Jawara dan Laskar FPI ini sudah berada di lokasi guna menguatkan tekadnya mengawal dan menjaga para ulama. BDLV/TM


inilah para jawara yang akan mengawal ulama besok di masjid At tin jakarta
Dikirim oleh BiidzNillah Jihad Fiisabilillah pada 10 Maret 2017

Tuesday, 28 February 2017


Bupati Subang/sebagian foto milik Pemkab Subang
Soeara Rakjat, Historia. Kabupaten Subang, adalah sebuah Daerah Tingkat II di Jawa Barat, yang letak wilayahnya berada di sebelah utara Bandung. Subang juga berbatasan dengan Purwakarta dan Karawang di bagian Barat, Majalengka dan Indramayu di Timur, serta Sumedang di bagian tenggara. Sementara mayoritas wilayah utaranya berbatasan dengan laut Jawa. 

Kabupaten Subang sendiri tak lepas dari eksistensi Karawang sebagai salah satu basis gerilyawan di Jawa Barat. Atas keputusan Wali Negara Pasundan tanggal 29 Januari Nomor 12 Tahun 1949, Karawang kemudian dibagi menjadi dua, yaitu Karawang Barat dengan Ibukota di Karawang dan Karawang Timur yang kemudian disebut Kabupaten Purwakarta dengan Ibukotanya di Subang. 

Wilayah Kabupaten Purwakarta saat itu meliputi wilayah Kabupaten Subang dan Purwakarta saat ini. Pada tahun 1968, Kabupaten Purwakarta dibagi menjadi dua melalui UU. No. 4 Tahun 1968 yang kemudian membagi Kabupaten Purwakarta menjadi Kabupaten Subang dengan Ibukotanya di Subang, dan Kabupaten Purwakarta yang beribukota di Purwakarta. 

Sejak itu, Kabupaten Subang dan Purwakarta menjadi dua kabupaten yang berbeda. Meski demikian, keduanya masih memiliki rasa ikatan dan kebersamaan karena berdasar pada mayoritas etnis, budaya maupun adat istiadat yang relatif sama. 

Kota Subang sendiri selalu memperingati hari jadinya pada 5 April, sejak tahun 1948. Berikut ini adalah nama-nama yang pernah menjabat sebagai Bupati di Kabupaten Subang:
12345

Wednesday, 22 February 2017

SDS Taman Siswa Desa Tanjungtiga.
Soeara Rakjat, Tanjungtiga. Taman Siswa, adalah sebuah perguruan atau sekolah yang pertamakali didirikan oleh Raden Mas Soewardi Soejaningrat atau Ki Hadjar Dewantara. Taman Siswa merupakan implementasi dari gagasan bersama Ki Hadjar dan rekan-rekannya sesama pejuang pergerakan kemerdekaan saat tergabung dalam paguyuban Seloso Kliwon.

Paguyuban Seloso Kliwon ini adalah forum yang digelar oleh Ki Hadjar selepas pulang menimba ilmu di negeri Belanda. Bersama teman-temannya, Ki Hadjar sepakat untuk memberi pendidikan kepada kaum muda. Bersama Ki Ageng Suryomentaram, Soerjokoesoemo, Soejopoetro, Pronowidigdo dan kawan yang lainnya, Ki Hadjar lantas mendirikan National Onderwijs Instituut Taman Siswa, yang kemudian lebih dikenal sebagai Perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922, di Yogyakarta.

Secara harfiah, Taman Siswa sendiri memiliki pengertian taman atau tempat bermain bagi para siswa dan pelajar. Perguruan Taman Siswa sendiri berpusat di Balai Ibu Pawiyatan atau Balai Luhur di Jalan Taman Siswa Yogyakarta. Hingga saat ini, perguruan ini memiliki ratusan cabang sekolah di berbagai kota di Indonesia.

Meski demikian, perjalanan sekolah ini tidaklah mulus. Taman Siswa pernah dibubarkan oleh Belanda karena dianggap membahayakan hegemoni penjajah di Indonesia. Terlebih, Ki Hadjar sendiri selalu menyerang Belanda dengan tulisan-tulisannya yang sangat terkenal.

Di Desa Tanjungtiga, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat, ada sekolah dasar yang juga bernaung di bawah perguruan Taman Siswa. SDS Taman Siswa ini berlokasi di Dusun Sukawera persisnya di alun-alun atau berada di seberang Kantor Desa Tanjungtiga. Sekolah ini adalah salah satu SD tertua di wilayah Kecamatan Blanakan.

SDS Taman Siswa Desa Tanjungtiga sendiri diperkirakan sudah ada sejak 1949 yang awalnya belokasi di Dusun Sukatani (sekarang Lapangan Bola) Tanjungtiga. Saat itu SD ini dipimpin oleh Pak Rospan dan Pak Tarjo dengan dibantu Pak Teha Atmadja dan Pak Soewarya (Warya) yang kesemuanya adalah warga asli Tanjungtiga. Selain itu, SD ini juga pernah mendatangkan beberapa guru asal Yogyakarta diantaranya Ki Soemardi dan Ki Noerherwan.

Tak lama setelah itu, SD Taman Siswa kemudian pindah ke Pasar Reboan yang lokasinya di sekitar jembatan gantung Desa Muara persis di pinggir kali Ciasem. Di sekitar Reboan, SD Taman Siswa menempati ruang bekas pasar yang kosong karena ditinggal pemiliknya. Saat itu, Pasar Reboan sendiri sudah mulai sepi dan tak lama kemudian tutup.

"Saat saya sekolah di Taman Siswa Reboan tahun 1950-an, suasana masih sangat sepi. Masih banyak pohon besar dan semak berduri. Kelasnya juga bekas los pasar dan terbuat dari pager (bilik bambu)," kenang Ki Dastam, seorang warga Sukawera, Tanjungtiga kelahiran tahun 1937.

Saat itu, warga Tanjungtiga dan Muara memang bermukim di pinggir sungai Ciasem dan hanya dibatasi tanggul yang berada persis di tepi Sungai. Tanggul ini sering jebol dan membuat banjir besar. Bahkan saat tanggul Ki Nari jebol sekitar tahun 1955, desa Tanjungtiga mengalami banjir besar yang membuat lahan pesawahan Tanjungtiga tenggelam dan bahkan bisa untuk berlayar karena berubah seperti lautan.

Pada awal tahun 1960, tanggul besar kemudian dibuat dan warga pun mulai berpindah dari pinggir sungai ke lokasi yang sekarang. Dengan tanggul (deck) yang ada saat ini, potensi banjir besar pun bisa dihindari karena lokasi tanggul yang lebih jauh dari sungai dan mampu menampung debit air lebih banyak.

Setelah Balai Desa Tanjungtiga berdiri di lokasi saat ini pada sekitar 1958, tak lama kemudian SD Taman Siswa pun ikut pindah. Bangunan SD Taman Siswa yang ada saat ini diperkirakan mulai dibangun pada awal tahun 1960. Tak lama setelah pindah, Pak Rosman kemudian meninggal dunia dan diganti oleh Pak Abdul Muin (Alm) sebagai Kepala Sekolah. 

SD Taman Siswa sendiri menerapkan sistem pendidikan seperti yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara. Kala itu, para siswa yang pernah bersekolah di Taman Siswa Tanjungtiga akan merasakan betul suasana keakraban dan kedekatan para pengajar dengan anak didiknya. Selain pelajaran membaca, menulis dan berhitung, Taman Siswa juga berusaha menanamkan sikap luhur budaya Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara dan Murid Taman Siswa sekitar 1920-an.
Selain diwajibkan untuk menguasai ilmu pendidikan, para pelajar di SD Taman Siswa Tanjungtiga juga dituntut untuk mampu mengedepankan sikap tenggang rasa, toleransi dan saling menghormati baik sesama siswa, orang tua dan guru. SD Taman Siswa berusaha menanamkan sikap luhur dan budi pekerti sebagai bagian paling penting dalam mata pelajarannya.

Sebagai salah satu Sekolah Dasar tertua, SD Taman Siswa Tanjungtiga telah berjasa besar memberi pendidikan dasar bagi masyarakat Desa Tanjungtiga dan Desa Muara. BDLV/TM

Powered by Blogger.

Popular Posts

Blog Archive